Ditulis oleh : Fajarasih Luthfia Martha
Derap langkah kakinya memecah keheningan yang mencekam. Menelusuri
lorong sempit, kotor juga gelap. Seragam kecokelatannya sudah lusuh dan
berlapis lumpur. Namun, semangat seorang Arkan tak pernah sedikit pun luntur.
Meski maut seakan menghadang tepat diadapannya, ia tak gentar. Ia abaikan
ketakutan yang menerjang. Dalam kegelapan lisan, ia hidupkan dengan dzikir. Tak
henti-henti ia berdoa kepada Yang Maha Kuasa.
Sampai di ujung lorong, sebuah titik cahaya terlihat. Tetapi hal yang
Arkan temui selanjutnya sudah pasti akan membuat siapapun bergidik ngeri. Tidak
bagi Arkan, pria itu lantas menutup kelopak matanya, sembari berdoa dalam hati
agar ruh dari jasad bergelimpangan itu diterima di sisi Tuhan. Selanjutnya,
Arkan belum membuka kelopak mata. Ia menajamkan kesemua panca indera.
Bunyi pelatuk yang ditekan, disusul dengan suara yang memekakan. Bau
mesiu pun tak lama tercium. Beruntung, Arkan tak mendapat luka tembak. Pria itu
berhasil menghindar. Barulah, Arkan membuka kelopak matanya. Menampilkan
sepasang iris hitam bak jelaga. Mengintimidasi siapapun yang berhadapan
dengannya. Ia temukan seorang pria dengan luka sayatan di dahi. Wajah
orientalnya sudah termakan usia. Seringai yang pria itu sunggingkan membuat
Arkan bergejolak. Ia langsung melirik lewat ekor matanya, salah seorang teman
seperjuangannya tumbang.
Tangan Arkan makin mengepal. Giginya saling beradu. Batas amarahnya
sudah memuncak. Arkan kini tak peduli, apa yang akan terjadi kedepannya. Yanto,
teman terakhirnya baru saja ditembak mati. Kini terisa hanya ia seorang diri.
Mau tak mau, Arkan harus maju, cukup sudah ia menghindar dan hanya bersembunyi.
Badan kekarnya bergetar, dengan gesit, Arkan mengangkat senapannya. Di
seberang sana, si pria paruh baya masih diam dan tak melakukan pergerakan yang
berarti. Arkan memfokuskan titik bidikannya, lalu menghela napas untuk menenangkan
dirinya sebelum menarik pelatuk pelan-pelan.
Peluru dari senapannya itu berhasil melesat dengan cepat, mengenai tepat
pada dada kiri si pria paruh baya. Namun pria tersebut menampilkan senyum yang
Arkan tak tahu apa artinya. Pria berwajah orang Jepang itu akhirnya tumbang.
Hanya Arkan yang saat ini masih setia berdiri. Kakinya mundur sedikit, namun
belum sempat dia mengambil langkah, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya.
Arkan pun menunduk, mendapati sebuah belati menancap pada pahanya. Darah segar
sudah merembes lewat kain seragamnya.
Dada Arkan makin terasa sesak. Mata jelaganya berkunang-kunang tak
karuan. Napasnya mulai tersendat.
Menilik reaksi tak biasa pada tubuhnya, Arkan bisa menangkap kalau
belati itu bukan benda biasa. Pastilah sudah ada racun yang terlumur pada
belati itu. Arkan meringis, antara menahan sakit yang menikam raganya dan
mengutuk diri sendiri. Betapa bodohnya ia! Bahkan belati sebesar dua jarinya
pun tak dapat ia lihat.
Di saat genting seperti itu, sebuah suara yang menggugah panggilan jiwa
terdengar merdu. Meski sudah lemah seperti ambang batas, Arkan merogoh kantong
celananya. Mencari sebuah kompas peninggalan sang kekasih. Mencari-cari di mana
arah barat berada.
Ketika sudah menemukan arah barat itu, Arkan duduk di atas tanah, bibirnya
yang bergetar mengucap Basmillah. Ia gerakan tangannya yang mulai hilang
tenaga, menepuk tanah kelahirannya yang suci. Lalu meniupnya, baru
mengusap-usapkan pada tangan. Kemudian ia kembali menepuk-nepuk tanah tempatnya
tumbuh dewasa, meniup perlahan, dan mengusapkan pada wajah.
Tubuh
Arkan yang semula hendak berdiri, ambruk lagi. Tak habis pilihan, Arkan
mendudukkan diri di atas tanah. Lalu bertakbir dan memulai takbiratul ikram. Bibirnya yang mulai membiru tak henti melafalkan
doa-doa dalam shalatnya. Hingga tiba saat dahinya mencium tanah, tiba-tiba tubuh
Arkan menegang, dan tak ada pergerakan lagi setelahnya.
Seketika itu, hujan mengguyur tempat dimana Arkan melaksanakan sujud.
Seakan menjemput Arkan kembali pada pangkuan sang Khaliq. Menjadi saksi bisu
atas perjuangan yang takkan pernah usai. Demi bangsa, negeri, saudara-saudari,
dan keluarga. Serta merta demi penegakan keadilan untuk bumi pertiwi yang ia
cintai.
“—dan kini ia telah tumbang,
selepas berperang. Saatnya pulang, setelah sekian lama berpetualang. Seluruh
juang, akan selalu terkenang.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar