Rabu, 11 Januari 2017

PULANG

Ditulis oleh : Fajarasih Luthfia Martha

  Derap langkah kakinya memecah keheningan yang mencekam. Menelusuri lorong sempit, kotor juga gelap. Seragam kecokelatannya sudah lusuh dan berlapis lumpur. Namun, semangat seorang Arkan tak pernah sedikit pun luntur. Meski maut seakan menghadang tepat diadapannya, ia tak gentar. Ia abaikan ketakutan yang menerjang. Dalam kegelapan lisan, ia hidupkan dengan dzikir. Tak henti-henti ia berdoa kepada Yang Maha Kuasa.

  Sampai di ujung lorong, sebuah titik cahaya terlihat. Tetapi hal yang Arkan temui selanjutnya sudah pasti akan membuat siapapun bergidik ngeri. Tidak bagi Arkan, pria itu lantas menutup kelopak matanya, sembari berdoa dalam hati agar ruh dari jasad bergelimpangan itu diterima di sisi Tuhan. Selanjutnya, Arkan belum membuka kelopak mata. Ia menajamkan kesemua panca indera.

  Bunyi pelatuk yang ditekan, disusul dengan suara yang memekakan. Bau mesiu pun tak lama tercium. Beruntung, Arkan tak mendapat luka tembak. Pria itu berhasil menghindar. Barulah, Arkan membuka kelopak matanya. Menampilkan sepasang iris hitam bak jelaga. Mengintimidasi siapapun yang berhadapan dengannya. Ia temukan seorang pria dengan luka sayatan di dahi. Wajah orientalnya sudah termakan usia. Seringai yang pria itu sunggingkan membuat Arkan bergejolak. Ia langsung melirik lewat ekor matanya, salah seorang teman seperjuangannya tumbang.

  Tangan Arkan makin mengepal. Giginya saling beradu. Batas amarahnya sudah memuncak. Arkan kini tak peduli, apa yang akan terjadi kedepannya. Yanto, teman terakhirnya baru saja ditembak mati. Kini terisa hanya ia seorang diri. Mau tak mau, Arkan harus maju, cukup sudah ia menghindar dan hanya bersembunyi.

  Badan kekarnya bergetar, dengan gesit, Arkan mengangkat senapannya. Di seberang sana, si pria paruh baya masih diam dan tak melakukan pergerakan yang berarti. Arkan memfokuskan titik bidikannya, lalu menghela napas untuk menenangkan dirinya sebelum menarik pelatuk pelan-pelan.

  Peluru dari senapannya itu berhasil melesat dengan cepat, mengenai tepat pada dada kiri si pria paruh baya. Namun pria tersebut menampilkan senyum yang Arkan tak tahu apa artinya. Pria berwajah orang Jepang itu akhirnya tumbang. Hanya Arkan yang saat ini masih setia berdiri. Kakinya mundur sedikit, namun belum sempat dia mengambil langkah, rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Arkan pun menunduk, mendapati sebuah belati menancap pada pahanya. Darah segar sudah merembes lewat kain seragamnya.  Dada Arkan makin terasa sesak. Mata jelaganya berkunang-kunang tak karuan. Napasnya mulai tersendat.  Menilik reaksi tak biasa pada tubuhnya, Arkan bisa menangkap kalau belati itu bukan benda biasa. Pastilah sudah ada racun yang terlumur pada belati itu. Arkan meringis, antara menahan sakit yang menikam raganya dan mengutuk diri sendiri. Betapa bodohnya ia! Bahkan belati sebesar dua jarinya pun tak dapat ia lihat.

  Di saat genting seperti itu, sebuah suara yang menggugah panggilan jiwa terdengar merdu. Meski sudah lemah seperti ambang batas, Arkan merogoh kantong celananya. Mencari sebuah kompas peninggalan sang kekasih. Mencari-cari di mana arah barat berada.

  Ketika sudah menemukan arah barat itu, Arkan duduk di atas tanah, bibirnya yang bergetar mengucap Basmillah. Ia gerakan tangannya yang mulai hilang tenaga, menepuk tanah kelahirannya yang suci. Lalu meniupnya, baru mengusap-usapkan pada tangan. Kemudian ia kembali menepuk-nepuk tanah tempatnya tumbuh dewasa, meniup perlahan, dan mengusapkan pada wajah.

  Tubuh Arkan yang semula hendak berdiri, ambruk lagi. Tak habis pilihan, Arkan mendudukkan diri di atas tanah. Lalu bertakbir dan memulai takbiratul ikram. Bibirnya yang mulai membiru tak henti melafalkan doa-doa dalam shalatnya. Hingga tiba saat dahinya mencium tanah, tiba-tiba tubuh Arkan menegang, dan tak ada pergerakan lagi setelahnya.

  Seketika itu, hujan mengguyur tempat dimana Arkan melaksanakan sujud. Seakan menjemput Arkan kembali pada pangkuan sang Khaliq. Menjadi saksi bisu atas perjuangan yang takkan pernah usai. Demi bangsa, negeri, saudara-saudari, dan keluarga. Serta merta demi penegakan keadilan untuk bumi pertiwi yang ia cintai.

 “—dan kini ia telah tumbang, selepas berperang. Saatnya pulang, setelah sekian lama berpetualang. Seluruh juang, akan selalu terkenang.”

***